Lele Saus Mangga

TAMORAFOOD
Setelah dibalut tepung dan digoreng kering ikan lele jadi makin gurih renyah. Siraman saus mangga yang pedas-pedas asam makin membuat lele ini jadi enak. Yuk cicipi!

Bahan:
  • 4 ekor ikan lele ukuran sedang
  • 2 sdm air jeruk nipis
  • 2 siung bawang putih, parut
  • 1 sdt garam
  • minyak goreng

Lapisan:
  • 1 putih telur ayam, kocok
  • 100 g tepung bumbu siap pakai
  • Saus Mangga:
  • 200 g daging mangga muda, serut kecil panjang
  • 2 sdm kacang tanah goreng
Bumbu:
  • 1 sdm minyak sayur
  • 300 ml air
  • 1 sdt tepung kanji, larutkan dengan sedikit air

Haluskan:
  • 3 buah cabai merah keriting
  • 2 buah cabai rawit merah
  • 2 butir bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 1 sdt gula merah sisir halus
  • 1 sdt garam
Cara Membuat:
  • Bersihkan ikan lele, hingga lendirnya hilang. Buang isi perutnya, kerat-kerat badannya.
  • Lumuri ikan lele dengan air jeruk, bawang dan garam hingga rata.
  • Celupkan dalam putih telur lalu lapisi dengan tepung bumbu hingga rata. Diamkan sebentar.
  • Goreng ikan lele dalam minyak banyak dan suhu sedang hingga kering dan matang.
  • Angkat dan tirikan.
Saus Mangga:
Bumbu:
  • Tumis bumbu halus hingga wangi.
  • Tuangi air dan didihkan.
  • Tuangi larutan kanji, aduk hingga agak kental.
  • Masukkan mangga, aduk sebentar. Angkat.
  • Sajikan lele goreng dengan Saus Mangga.
  • Taburi kacang tanah. Sajikan panas.
Sajian untuk 4 porsi.

Resep Dessert: Setup Pisang Kolang Kaling

Bosan dengan kolak pisang? Coba saja bikin setup pisang ini untuk berbuka. Pisang kepok kuning masak pohon jadi pulen legit. Ditambah kolang-kaling dan santan, rasanya makin legit mantap!

Bahan:
  • 8 buah pisang kepok kuning masak
  • 250 g kolang-kaling muda
  • 1 lembar daun pandan
  • 2 lembar daun jeruk
  • 500 ml air
  • 50 gr gula pasir
  • 300 gr gula aren
  • Saus:
  • 250 ml santan kental
  • 1/4 garam
  • 1 sdt tepung maizena


Cara Membuat:
  • Kupas pisang, potong menjadi dua.
  • Cuci kolang-kaling dengan air bersih lalu tiriskan.
  • Rendam kolang-kaling dengan air bekas cucian beras selama 3 jam atau lebih agar lendirnya hilang dan tidak berbau asam.
  • Cuci bersih lalu tiriskan.
  • Rebus air bersama gula pasir, gula aren, daun pandan dan daun jeruk hingga mendidih dan gula larut.
  • Masukkan kolang-kaling dan rebus beberapa saat hingga berubah warna.
  • Masukkan pisang.
  • Masak dengan api kecil hingga semuanya lunak dan kuah gula mengental.
  • Angkat dan dinginkan.
  • Untuk saus santan: Rebus santan bersama garam dan daun pandan hingga mendidih.
  • Larutkan maizena dengan sedikit air, tuangkan ke dalam santan.
  • Aduk hingga mendidih dan kental.


Sajian untuk 4 porsi.

Menjadi Guru Ikhlas


Melalui tulisan ini semoga bermanfaat untuk yang membaca dan saya pribadi. Guru adalah judul yang kali ini saya kupas pada artikel ini. Karena guru memegang peranan penting dalam mendidik, walau tidak bisa ditampik dalam mendidik diperlukan juga figure orang tua, bahwa dalam tujuan pendidik adalah mencetak pribadi yang kukuh, kuat dalam jiwa anak-anak supaya mereka dapat berguna bagi masyarakatnya.

Ketika anak-anak datang ke sekolah saatnya bersama guru yang disayang dan menjadi figur yang baik tetapi terkadang kita sebagai guru lupa menjadi figur yang mereka butuhkan bahkan terkadang kita mencontohkan yang tidak baik kepada anak-anak yang menerima saja apa saja yang dilihat dan didengarnya. Karena guru adalah model untuk siswa-siswinya. Guru adalah yang selalu dipandangnya manis.

Guru adalah yang selalu dipandangnya ok. Guru adalah yang selalu mengingatkannya untuk berbuat baik. Guru adalah yang selalu menjadi tolak ukur yang dirasakannya, jadi apa ada alasan untuk tidak ikhlas di hadapannya, apa ada alasan untuk bermuka masam di hadapan anak-anak yang penuh harap dihatinya. Jadi apa masih ada alasan untuk untuk tidak hadir di hadapan mereka, apa masih juga beralasan untuk hal yang kita bisa kerjakan kelak ?

Ketika kita sebagai guru dapat menikmati manisnya mengajar, manisnya bersama tawa dan canda mereka, manisnya bersama pola tingkahnya yang membuat hati ini banggga, manisnya melihat mereka mampu mengerjakan apa yang kita arahkan, manisnya menikmati mereka tumbuh menjadi seseorang yang di dalam diri mereka ada andil kita dalam mendidik mereka, tidak ada rasa yang tidak ikhlas ketika mengajar, tidak ada muka yang masam di hadapan mereka, tidak ada rasa jenuh dalam perjumpaan. Walau setiap guru tidak mulus adanya, ada saja dari orangtua atau masyarakat yang mengkritik dengan cara yang kurang pantas. Toh, guru tidak akan gelap mata ketika mendapat kritikan, dia akan terus berusaha untuk menjadi figur yang sangat disayangi oleh anak-anak.

Waallahu’alam…..semoga kita bisa menjadi guru yang ikhlas

Bulan Ramadan Bulan Istimewa

Allah SWT telah memilih bulan Ramadan sebagai bulan suci dan bulan mulia. Hal ini ditandai dengan adanya kewajiban umat Islam shaum pada bulan ini. Tidak ada di bulan lain yang diwajibkannya shaum.


Pada bulan ini Kitab suci Alquran diturunkan. Bahkan bukan hanya Alquran, kitab-kitab sebelum Alquran juga diturunkan di bulan ini. Pada bulan ini pun dilantik menjadi Rasulullah Muhammad saw. Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw juga dilantik menjadi Nabi dan Rasul pada waktu Ramadan.

Di Ramadan, terdapat malam istimewa, malam lebih baik daripada malam seribu bulan, yaitu lailatul qadar. Menjalankan amal ibadah di bulan ini, akan mendapat pahala lebih besar daripada di luar Ramadan dengan amal yang sama. Setiap amal ibadah sunah di Ramadan mendapat pahala seperti halnya ibadah wajib di luar Ramadan. Sedangkan ibadah wajibnya mendapat pahala 70 kali lipat dibanding di luar Ramadan.

Istimewanya lagi, pada bulan ini pun saatnya dikabulkan doa-doa, dan saat-saat terbaik untuk meminta ampunan Allah. Sehingga amat penting bagi kita untuk meningkatkan taqarub dan meminta ampunan Allah SWT.

Kemenangan dalam catatan sejarah, sering terjadi di bulan Ramadan pula. Seperti penaklukkan kota Mekah, Proklamasi Kemerdekaan RI, dan lain-lain.

Mari kita isi dan manfaatkan bulan ini dengan ketakwaan kepada Allah SWT.

*Ketua MUI Kota Bandung & Dewan Syariah DPU DT

Mengenang Tradisi "Bom" di Masjid Agung Magelang


Sekira belasan tahun yang lalu, takmir Masjid Agung Kauman Magelang, Jawa Tengah, mempunyai cara unik untuk menandai waktu berbuka puasa. Mereka menggunakan tanda yang disebut "bom" udara atau dung.

Takmir Masjid Agung Kauman Magelang, H Jauwari (80), menceritakan, "bom" yang dimaksud adalah sejenis petasan berbentuk bola berdiameter sekitar 10 sentimeter. Di dalam bola itu diisi serbuk mercon yang di tengahnya dipasang sumbu.

Ketika hendak menyulut, kata Jauwari, bom diletakkan di ujung tabung besi sepanjang lebih kurang 1,5 meter. “Sebelum dinyalakan, bom yang sudah dipasang di tempatnya harus diarahkan ke atas atau udara, kemudian dinyalakan menggunakan korek api pada sumbunya. Setelah itu, bom akan meluncur ke atas diiringi dengan suara dentuman seperti suara bom," kata Jauhari ketika ditemui di rumahnya di Kampung Kauman, Kota Magelang, Rabu (10/7/2013).

Menjelang detik-detik berbuka puasa atau menjelang maghrib, bom itu ramai-ramai dinyalakan di tengah lapangan alun-alun depan masjid tua itu. Konon, suara dentuman yang keras bisa terdengar hingga di seluruh pelosok Kota Magelang.

Masyarakat setempat mengenalnya dengan suara dung. “Suara itulah yang oleh warga Magelang menjadi satu-satunya tanda berbuka puasa,” ujar Jauwari yang sudah menjadi Takmir Masjid Agung Magelang sejak tahun 1956.

Menurut Jauwari, tradisi menyalakan bom sudah ada bahkan sejak dirinya belum lahir. Tradisi tersebut menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu warga Magelang dan sekitarnya. Sejak ia ditunjuk menjadi takmir, ia pasti membeli bom tidak kurang dari 60 biji, yang langsung dibawa dari Surabaya, Jawa Timur.

"Waktu itu harganya masih Rp 5.000 per biji. Tiap hari selama Ramadhan dinyalakan. Kalau belum habis, sisanya akan dinyalakan beramai-ramai pas hari raya Idul Fitri setelah shalat Id di alun-alun. Wah, senang dan ramai sekali waktu itu," kenangnya.

Namun sayang, sejak ada pelarangan menyalakan petasan beberapa tahun lalu, tradisi bom itu juga ikut dilarang oleh pemerintah. Tradisi tersebut kemudian diganti menggunakan sirene yang dipasang di atas tugu water torn di Alun-alun.

Namun, penggunaan sirene itu pun tidak berlangsung lama karena sirene rusak dan tidak pernah diperbaiki hingga sekarang. "Penanda berbuka puasa lantas diganti menggunakan tabuhan beduk dan suara azan melalui pengeras suara sampai sekarang," tutur Jauwari.

Pada Ramadhan tahun ini, Jauwari berkeinginan menghidupkan kembali tradisi tersebut. Jauwari mengatakan, banyak warga yang menemuinya dan mengusulkan untuk menghidupkan lagi bom udara atau sirene itu.

Menurut mereka, tanda tersebut sangat membantu mengetahui waktu berbuka puasa. "Sekarang warga banyak yang kebingungan dan ragu-ragu jika hendak berbuka. Karena mendengar tanda berbuka dari berbagai media dengan waktu yang berbeda pula. Tapi kami tidak bisa berbuat banyak karena masih ada larangan dan harus seizin wali kota," ungkapnya.

Sementara itu, Romelah, warga Sorobayan Banyuurip Tegalrejo, Kabupaten Magelang, menceritakan, meski jarak rumahnya dengan dengan Masjid Agung sekitar empat kilometer, tetapi suara dung atau sirene menjelang maghrib jelas terdengar.

Saat-saat menunggu suara itu adalah sesuatu yang menyenangkan bagi warga, khususnya anak-anak. "Dulu patokan waktu berbuka puasa ya suara dung atau sirene dari Masjid Agung Kauman. Kalau sekarang sudah tidak ada lagi," tuturnya.

Masjid Agung atau populer juga dengan Masjid Jami' Kauman Kota Magelang berawal dari mushala yang dibangun tahun 1650 oleh Kyai Mudzakir. Tahun 1779, Danuningrat (bupati ketiga Magelang) membangun menjadi masjid dan bertahan hingga sekarang.

Lalu, masjid yang menjadi pusat penyiaran agama Islam di Magelang itu mengalami pemugaran pada tahun 1935, sekaligus dibuat tembok pembatas. Tahun 1981 mendapat tambahan serambi dan menara yang dibangun oleh Bagus Panuntun, Wali Kota Magelang kala itu.

Ramadhan, Harga Ayam Potong Turun Rp 15.000


Pada hari pertama bulan Ramadhan, Rabu (10/7/2013), harga ayam potong di Kendari, Sulawesi Tenggara, turun menjadi Rp 65.000 dari sebelumnya sebesar Rp 80.000 per kilogram. Padahal sehari sebelumnya, terjadi kenaikan harga ayam potong.

"Kan kemarin banyak pembeli daging ayam potong untuk persiapan hari pertama Ramadhan, jadi kebutuhan meningkat. Untuk hari ini sudah mulai sepi pembeli ayam potong, jadi kami turunkan sampai Rp 65.000," terang Abang, salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Basah Mandonga, Kendari, Rabu (10/7/2013).

Menurut dia, harga ayam potong sempat naik sebulan lalu pascapengumuman kenaikan harga BBM, mengingat ayam potong dipasok dari luar Kota Kendari.

Namun, penurunan harga tersebut tidak terjadi pada daging sapi. Di beberapa pasar di Kendari, harga daging sapi tetap stabil, yakni sebesar Rp 80.000 per kilogram. Meski demikian, stok daging malah berkurang.

Daeng Tarang, salah satu penjual daging sapi di Pasar Mandonga, mengatakan bahwa pengurangan stok daging sapi diakibatkan berkurangnya suplai dari peternak. Hal itu juga dipicu meningkatnya biaya transportasi pengiriman harga daging sapi setelah kenaikan harga BBM.

"Jadi peternak sapi membatasi suplai daging ke Kendari, soalnya sapi itu banyak didatangkan dari luar Kendari," ujarnya.

Harga telur juga mengalami kenaikan di hari pertama bulan Ramadhan. Harga telur per rak naik dari Rp 28.000 menjadi Rp 38.000. Kenaikan harga telur juga dipicu kenaikan harga BBM, dan bahan pokok itu lebih banyak disuplai dari wilayah Makassar, Sulawesi Selatan.

Sementara itu, harga bumbu dapur dan sayur, seperti bawang merah, cabai rawit, wortel, dan kentang, juga naik hingga 100 persen.

Selama ini sebagian besar bahan kebutuhan pokok dikirim dari provinsi lain, seperti Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Akibatnya, kenaikan harga BBM dipastikan berpengaruh terhadap harga kebutuhan pokok sebagai akibat dari bertambahnya biaya transportasi.
 
Copyright © 2010 - 2013. tamoraRamadhan - All Rights Reserved - adPoint - CTN - Yoap
Hosting by : Blogger - Nazuka.net
Template inspired by detikcom
Editing by Tamoranetwork